top of page
Search

Q.4 7 Dec, Selamat Ulang Tahun Aku

Updated: Mar 3, 2022



Epilog: Jikalau aku sudah menunjukkan tulisanku ini pada dunia, itu artinya aku sudah berdamai dengan situasi itu. Jikalau ada satu atau dua orang yang merasa familiar dengan apa yang kuceritan, mungkin ini memang tentangmu. Tapi tenang, semua sudah lewat, aku telah pulih. Tulisan ini kuperuntukkan untuk waktu yang selalu menjadi guru terbaik dan semesta yang tak pernah lupa untuk mencintaiku.


  • Hari ini tepat 3 dekade umurku, 30 adalah waktuku berefleksi. Semesta memberiku kesempatan untuk mengenal tentang diriku lebih dalam jauh dari sebelumnya. Kupikir, proses mengenal diri tidak akan pernah selesai sampai kapanpun, selama aku masih memiliki kesadaran. Tapi di titik ini aku rasa aku diberikan porsi dan kesempatan yang lebih besar untuk lebih mengerti tentang diri sendiri. Sungguh ku tahu semesta menyayangiku.


  • Aku memilih perpisahan yang cukup pahit 2 bulan sebelum aku menginjakkan kakiku di umur 30. Perpisahan yang ada baiknya dilakukan. Perih, sangat. Tapi semakin aku mencari dan menulis apa yang salah dari hubungan kami, ternyata perpisahan yang seperti duri ini berada di tempatnya. Sakit tapi melegakan.


  • Kadang aku masih membayangkan dia ada disampingku, padahal waktu dulu dia benar disampingku samar kuingat ada hatinya disana. Lama kupikirkan tentang ini, mungkin yang sebenarnya kudambakan bukanlah dia. Mungkin yang selalu datang dalam mimpi malamku adalah konsep tentang sosoknya yang ideal di kepalaku. Konsep surreal dengan segala ekspektasi yang terpenuhi, yang kuharapkan dengan ajaibnya berubah menjadi seonggok daging hidup untuk ada di depanku sekarang. Memberiku kue kecil dan berkata “Selamat tidur, nanti akan kuceritakan semua yang seharusnya kamu tahu.”


  • Kalau boleh dibilang, aku sendiri tidak tahu masih kupeluk rasa itu atau tidak. Cinta. Kata-kata yang terlalu berat untuk diucapkan di era mesin ketik ini. Apakah masih ada hal yang seperti itu saat ini? Aku tidak tahu. Tapi diumur 30 ini aku sepertinya tahu apa yang sedang dipaksa semesta untuk kupahami. Bahwa aku masih ingin untuk merasai romantisme lagi. Tapi itu nanti, menunggu saat keadaan sudah kembali. Tanpa terburu dan tanpa memaksa.


  • Aku tahu tak sebaiknya kutetap berada diantara nyata dan khayal, tapi tak mampu pula kupaksa diriku untuk maju karena kaitnya masih tertancap kuat di mata kaki. Aku menarik nafas panjang berkali-kali, tak apa-apa, satu per satu, kataku dalam hati. Kurasai semua sakit dan kuresapi pedih ini seiring dengan kesadaran bahwa semua emosi memiliki momennya sendiri-sendiri.


  • Perih di sekujur tubuhku ini valid, tapi bukanlah hal yang kekal. Kelak saat sudah bisa kuangkat kait yang mengikat tajam ini, aku akan siap berjalan dengan kaki yang jauh lebih kuat. Dan di semesta ini aku tidak sendiri, aku bukanlah satu-satunya yang merasakan ini, aku tahu tak semua orang bisa lupa dengan cepat. Ada aku dan jutaan orang yang sedang berjuang untuk mengenal diri lebih dalam lagi. Kuamini itu dan jika kamu salah satunya juga, hei, mari berjuang bersama.


  • Aku tahu ini saatnya aku kembali melihat ke dalam, banyak filsuf yang melahirkan ide dalam kesedihan, dalam penyakitan. Tentu saja, memang sakitku tidak bisa dibandingkan dengan mereka. Tapi aku tahu, sekecil apapun itu, tetap ada yang bisa kutemukan dalam semesta pedih mungilku ini.



Desember 2021

44 views0 comments

Recent Posts

See All
Post: Blog2_Post
bottom of page